"Kidzib"
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Berbohong
(berdusta) merupakan suatu kelakuan buruk yang merupakan dosa bosar yang
merusak pribadi dan masyarakat. Karena dusta adalah cacat masyarakat di seluruh
zaman, maka ia menyebabkan banyak kehinaan dan keburukan dalam masyarakat itu.
Di era globalisasi
sekarang ini, kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di
segala lapisan masyarakat. Sebagian umat Islam pun ada yang kecanduan dengan
sikap tercela ini.
Dusta juga
menimbulkan kebencian di antara orang-orang dan menyebabkan kehilangan
kepercayaan di antara mereka dan menjadikan mereka saling menjauh tidak saling
menolong dan tidak terdapat kerukunan di antara mereka. Karena itu, benarlah
Islam menganggap dusta sebagai dosa yang besar.
Kejujuran merupakan
nikmat Allah Ta’ala yang teragung setelah nikmat Islam, sekaligus penopang
utama bagi berlangsungnya kehidupan dan kejayaan Islam. Sedangkan sifat bohong
merupakan ujian terbesar jika menimpa seseorang, karena kebohongan merupakan
penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan kejayaan Islam.
2.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian kidzib?
2.
Apa
saja dalil aqli dan dalil naqli yang berkaitan dengan kidzib?
3.
Bagaimana
contoh perilaku kidzib?
4.
Bagaimana
hikmah menghindari sikap kidzib?
5.
Bagaimana
akibat apabila tidak melaksanakan sikap kidzib?
3.
BAB II
PEMBAHASAN
KIDZIB
A.
Pengertian
Kidzib
Kidzib (bohong)
adalah menyatakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan atau menyatakan sesuatu
berlainan dengan sebenarnya. Bohong sering disebut juga dusta..
Imam nawawi
rohimullah ta’ala mengatakan “ketahuilah olehmu, bahwa dusta menurut mahdzab
ahllu sunnah ialah memberitahukan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang
sebenarnya baik disengaja maupun karna ketidaktahuan. Akan tetapi dusta karna
ketidaktahuan tidaklah berdosa, sedangkan dusta karna berdusta adalah dosa.”
Hukum berbohong,
Imam Nawawi Rahimahulloh mengatakan, “Nash-nash baik dari al-qur’an maupun
sunnah telah menjelaskan haramnya berbohong. Berbohong merupakan dosa paling
jahat dan aib paling buruk. Kesepakatan ulama telah tercapai dalam pengharaman
berbohong berdasarkan nash-nash yang jelas.”[1]
Berdusta sangat
dilarang dalam Islam, hal tersebut adalah terlarang. Rosul telah melarang kita
untuk berbohong, walaupun untuk sekedar bercanda. Namun ada riwayat yang menerangakan
bahwa berbohong itu diperbolehkan. Seperti yang telah diriwayatkan dari ummu kultsum dalam
Shahih Muslim, ia mengatakan “saya tidak pernah mendengar Nabi SAW
mengecualikan suatu dari perkataan manusia selain dalam 3 hal, yaitu perang,
perdamaian diantara manusia, perkataan istri kepada suaminya dan perkataan
suami kepada istrinya ” [2]
B.
Dalil-dalil
Al-Qur’an tentang kidzib
Pada dasarnya
berbohong atau berkata dusta atau berperilaku tidak jujur haram hukumnya dalam
Islam. Al Quran dan al hadits secara tegas mencela mereka yang suka berbohong.
Al Quran menganggap berbohong adalah perilaku orang yang
tidak beriman.
$yJ¯RÎ) ÎtIøÿt z>És3ø9$# tûïÏ%©!$# w cqãZÏB÷sã ÏM»t$t«Î/ «!$# ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd cqç/É»x6ø9$# ÇÊÉÎÈ
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah
orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.”
(Q.S An-Nahl 16 : 105)
`tBur ó=Å¡õ3t ºpt«ÿÏÜyz ÷rr& $\ÿùSÎ) ¢OèO ÏQöt ¾ÏmÎ/ $\«ÿÌt/ Ïs)sù @yJtGôm$# $YY»tFökæ5 $VJøOÎ)ur $YYÎ6B ÇÊÊËÈ
“Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa,
kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia
telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata” (Q.S An-Nisa : 112)
wur ß#ø)s? $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# u|Çt7ø9$#ur y#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ
“dan jangan lah kamu mengikuti apa yang tidak kamu
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Q.S Al-Isra’ : 36)
C.
Contoh
prilaku Kidzib
Bohong adalah tidak
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Musailamah al-kadzab adalah seorang yang
berprilaku bohong. Ia mengaku sebagai nabi nabi. Padahal setelah nabi Muhammad
SAW tidak ada lagi nabi. Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, Nabi Akhirul
zaman.
Ia mendakwahkan
dirinya sebagai nabi. Ia berusaha untuk menandingi al-qur’an, padahal mustahil
bagi manusia dapat membuat susunan yang serupa dengan al-qur’an yang dapat
menandinginya. Keindahan susunan dan gaya bahasanya serta isinya tidak ada tara
bandingannya.[3]
Musailamah
menunjukan prilaku yang buruk, berbohong dapat merugikan diri sendiri dan orang
banyak. Prilaku seperti yang dilakukan musailamah Al Kadzab si Nabi palsu itu
harus kita hindari. Prilaku yaang harus kita pupuk adalah prilaku untuk
memperbaiki iman kita, karna dengan iman yang baik akan membuahkan akhlak yang
terpuji dan dari akhlak yang terpuji akan mewujudkan perbuatan yang
terpuji,tegas dan tidak akan berbohong.
D.
Dalil-dalil
Naqli tentang kidzib
Rasulullah
menegaskan haramnya berdusta dan menjadi salah satu tanda orang munafik:
خان اؤتمن وإذا ,أخلف وعد وإذا ,كذب
حدث إذا : ثلاثة المنافق آية
Artinya: Tanda orang munafik ada tiga: berkata bohong,
ingkar janji, mengkhianati amanah (HR Bukhari & Muslim).[4]
ليس
الكذاب الذي يصلح بين الناس فينمي خيرا أو يقول خيرا
Artinya: “Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong
untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau
mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)[5]
Hadist nabi
muhammad SAW, yang artinya”jauhkanlah dirimu dari dusta, karna sesungguhnya
dusta itu membawa kejahatan dan
sesungguhnya kejahatan itu akan membawa ke neraka”[6]
E.
Hikmah
meninggalkan sifat Kidzib
Beberapa hikmah
atau manfaat menjauhi dan meninggalkan sifat Kidzib, diantaranya :[7]
1.
Mendatangkan
ketenangan
2.
Mendatangkan
kedamaian
3.
Menciptakan
keluarga yang nyaman
4.
Menghindarkan
dari tuduhan-tuduhan yang merugikan.
F.
Akibat
melaksanakan sifat Kidzib
Beberapa kerugian
orang yang suka bohong :
1.
Hatinya
selalu tidak tenang karna takut kebohongannya diketahui orang/terbongkar
2.
Tidak
akan dipercayai orang lagi ketika berbohong
3.
Dijauhi
masyarakat.
BAB III
KESIMPULAN
Bohong adalah memberitakan tidak sesuai dengan kebenaran,
baik dengan ucapan lisan secara tegas maupun dengan isyarat. Dan berdusta
merupakan bahaya lidah yang dilarangan keras oleh agama, karena merupakan suatu
kelakuan buruk yang melakukan dan merupakan dosa besar yang merusak pribadi dan
masyarakat.
Dusta dapat diketahui dari bukti perbuatan, atau pada
tingkah laku yang lahir. Karena hanya lidah yang berdusta, adapun perbuatan dan
sikap muka itu selalu berlawanan dengan lidah.
Akan tetapi ada dusta yang diperbolehkan asalkan maksud
dari tujuan itu baik. Walaupun begitu tetap harus berhati-hati dalam setiap
berkata dan bertindak. Karena dusta yang diperbolehkan itu disaat situasi yang
sangat terpaksa.
Adapun hikmah yang terkandung apabila kita meninggalkan
sifat Kidzib(bohong) yaitu mendatangkan ketenangan dan kedamaian dalam hidup
dan terhindar dari tuduhan-tuduhan yang merugikan diri kita.
[1]
Said Ibnu, Tajamnya Lidah, Jakarta:
Qafah Gemilang,2005, hal.48
[2]
Said Ibnu, Tajamnya Lidah, Jakarta: Qafah
Gemilang,2005, hal.53
[3]
http://kisahteladan354.blogspot.com/2013/03/kisah-musailamah-al-kadzab
[4]
Said Ibnu, Tajamnya Lidah, Jakarta: Qafah
Gemilang,2005. hal.49
[5]
http://www.Islamweb.net/fatwa
[6]
http://ikkaw.blogspot.co.id/2014/03/makalah-ilmu-akhlak-sifat-dusta.html
[7]
https://belajaronlineblog.wordpress.com
[1]
Said Ibnu, Tajamnya Lidah, Jakarta:
Qafah Gemilang,2005, hal.48
[2]
Said Ibnu, Tajamnya Lidah, Jakarta: Qafah
Gemilang,2005, hal.53
[3]
http://kisahteladan354.blogspot.com/2013/03/kisah-musailamah-al-kadzab
[4]
Said Ibnu, Tajamnya Lidah, Jakarta: Qafah
Gemilang,2005. hal.49
[5]
http://www.Islamweb.net/fatwa
[6]
http://ikkaw.blogspot.co.id/2014/03/makalah-ilmu-akhlak-sifat-dusta.html
[7]
https://belajaronlineblog.wordpress.com
No comments:
Post a Comment